Bisakah Seperti Doni???

Suatu pagi yang sangat cerah di halaman mesjid Salman ITB, saya melihat dari pandangan yang jauh, namun seseorang tersebut tidaklah asing bagi mata saya. YA! dia adalah doni,mahasiswa Jurusan Perminyakan di ITB, dan setelah melihatnya langsung saja saya menyapanya ” Haii don,,apa kabarnya?Sehat?sudah lama tak jumpa ni”. Begitulah tanyaku

Lalu doni pun menjawab dengan senyuman khas-nya “baik tad,ustad sendiri apa kabar?sehat?keluarga bagaimana gimana juga kabarnya?. Namun saat saya mengenggam tangan doni ada sesuatu yang berbeda dari-nya. “Kamu sakit ,don?” Tanya saya. “Iya,ustad”jawab doni.

“Sakit apa,don” Tanya saya. Doni jawab ” biasa tad sakitnya mahasiswa, sakit  habis kena gejala tipes tad,hehehe”. Setelah saya tau bahwa doni sedikit kurang enak badan,lantas saya pun langsung mengajaknya tuk makan siang.

Saat sedang makan siang lalu saya pun membuka pembicaraan dengan bertanya “Doni,sekarang sibuk apa?”. “Yaaa biasa tad sibuk anak mahasiswa,hehehe..Jurusan apa emang?tanya saya. “Jurusan perminyakan,tad” Jawab Doni. “wah jurusan timur jauh yah,hhehee” Jawab saya.

Lalu setelah pertemuan tesebut, saya pun tak pernah bertemu kembali dengan doni mungkin ada sekitar 5 tahunan sejak pertemuan sarapan tsb.

namun tiba-tiba saya tersentak baru saja mendengar kabar bahwa doni baru saja meninggal dunia.

Saya pun langsung seperti kembali ke memori saat pertemuan sarapan dulu. Ada apa dengan seorang doni?Kenapa dia bisa meninggal?

Lalu beberapa minggu setelah meninggal doni, saya pun menuju ke rumah orang tua. Disana lah saya mendengar sebuah cerita anak yang luar biasa solehnya..Dengan nada terbata-bata dan menangis, ibundanya oun bercerita atas kematian anaknya,doni.

Jadi doni ini sedang berkuliah di amerika serkat, nah saat akan pulang ke indonesia untuk liburan,doni lalu menelpon bundanya untuk menanyakan oleh-oleh apa yang diinginkan oleh ibunya. doni pun bertanya “ibu,besok kan doni mau pulang ke indonesia,,nah ibu ingin oleh-oleh apa?”. Lalu ibunya pun menjawab ” scraf aja don,tp jangan yang mahal-mahal yah yg biasa aja”. Setelah itu doni pun beranjak keluar rumah tuk ke toko yang menjual scarf, dan setelah membelinya disinilah doni meninggal. doni ditabrak mobil yang dikemudikan oleh pemabuk.

Sungguh indah disaat akhir hidupnya, doni sedang melakukan amal yang luar biasa, yakni ingin membahagiakan orang tuanya (ibu). Sebegitu indah kehidupannya seseorang jika setiap detiknya selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan kepada allah swt.

Dan bisakah kita seperti doni? Yang diakhir hayatnya ditutup oleh perbuatan yang sangat dicintai oleh allah swt.

Begitu banyak berita-berita di TV yang diakhir hidupnya ditutup dengan kegiatan-kegiatan yang mencemaskan diri sendiri dan mungkin mencemaskan orang lain.

Dan saat akhir hayat kita-lah ditentukan apakah kita benar-benar bermanfaat di dunia ini apa tidak,.

Yuk!! selagi kita masih hidup nih,sok monggo niatkan dan lakukan tiap detik kita agar selalu beribadah kepada allah swt. Malu rasanya jika diakhir hayat kita,malah terkuat kebrobokan kita sebenarnya di dunia ini. Malu Sangat.

Oke sip,sekian dulu yah penggalan cerita buat hari ini. Selamat istirahat dan sampaikan salam hangat dr @penjilatbuku kepada seluruh ayahanda dan ibunda terbaik di dunia.

Dan ingat jangan pernah lengah sedikit pun memberikan celah buat setan tuk memberikan kontribusinya kepada tubuh kita. Berikan lah yang terbaik pada tiap detik kehidupanmu agar kita semua bisa seperti doni

wassalamualaikum

*kutipan ceramah Ustd.Budi Prayitno*

 

 

Advertisements

Assalamualaikum..

haloo para pembaca blog “penjilat buku”, setelah sekian lama nih tak bercakap ria di dinding blog ini akhirnya kesampean juga euy dan hari ini saya ingin membagikan sebuah kisah tentang ke-sok tahuan seorang ayah yang peduli.

Suatu hari di sebuah kamar mungil terjadi sebuah percakapan antara seorang ayah yang sangat peduli dan anak perempuan yang berkisar umur sekitar 11 tahu-an atau kelas 5 SD laa..

Tiba-tiba sang ayah masuk ke kamar anaknya dan mengatakan “dek,gimana PR buat besok?Sudah dikerjakan kah?”. Anak perempuan tsb kaget tiba-tiba ayahnya masuk kedalam kamarnya dan dengan gugup menjawab ” bee..bee..luumm yah, nanti saja yah dikerjakannya”. Lalu tiba-tiba ayah yang peduli ini dengan muka marah berkata “loh..kok adek jawabnya begitu?ayo..ayoo..dikerjakan dek..adek kenapa jadi malas gini lo?ayoo sini mana buku matematika-nya”. Anak itu lalu menaruh buku yang sedang dibacanya tadi dan lekas mengambil buku matematikanya.

Ayah yang peduli segera berucap dengan sedikit nada tinggi “dek, ayo coba kerjakan PR-nya..nah ini coba 5×5 berapa,dek?”. Suasana kamar yang awalnya hening, tenang skg berubah menjadi seperti ruangan eksekusi hukuman,.mencekam.

dan dengan terbatah-batah anak ini pun menjawab “ee..ee..li..lii.maa belas yah”. Ayah yg peduli ini pun lantas semakin memerah wajahnya dan berucap “kok lima belas dek???masa’ iya adek udah kelas 5 masih belum bisa hitung2an kayak gini,,masa’ iya adek harus turun kelas lagi???” dan anak ini pun tak bisa berucap apa-apa. dia bertingkah seperti seseorang yang gagal menendang pinalti dalam sebuah turnamen final sepakbola. seperti kalah telak, menangis.

Lalu dengan masih sedikit kesal, ayah yang peduli ini pun keluar kamar.

lalu beberapa jam kemudian ayah ini pun balik lagi ke kamar anaknya, namun sekarang hati ayah sudah mereda tak seperti di awal masuk ke kamar..

dan ayah yang peduli ini pun berucap kepada anaknya “dek,kenapa sih tadi adek jawabnya gituh? ayah tau adek itu pintar, tapi jangan gituh dong..kalau ada PR ayo disegerakan untuk dikerjakan dek”. Dan anak itu akhirnya berucap dengan suara sedikit terisak “ayaahh, tadi adek sudah mau mengerjakan PR-nya, tp adek sedang ngafalin hadist,ayah. Adek ditunjuk sama guru di sekolah untuk jd pemimpin grup buat hafalan hadist jadi kalau temen adek ada yang lupa,adek harus bantuin..Tadi tuh adek sudah hafal 12 hadist yah dan tinggal 3 hadist lagi yah dan setelah itu adek akan langsung mengerjakan PR-nya kok”

Mendengar anaknya berucap demikian, ayah yang peduli tadi menangis dan memeluk anaknya dan berucap “maafkan ayahmu yah dek yang sok tahu”

Dari sebuah percakapan diatas jelas diungkapkan bahwa ayah pun tak selamanya selalu benar dan pastikanlah jangan pernah sok tahu yah ke anak kita..

Mungkin sekian dulu yah kutipan cerita malam ini..

Sampaikan salam ananda tuk ayah dimanapun kau berada..ananda masih belum bisa ditinggal olehmu,yah..ananda masih membutuhkan doa-doa di sepertiga malammu yg senantiasa tulus dan indah dengan diiringi lantunan tangisan yang ikhlas dari hatimu,yah..

Selamat istirahat,yah 🙂

ayah   464648_173695769418109_1875964827_o

*Kutipan ceramah Ustd.Budi Prayitno*