Terima Kasih, Petualangan

petualangan2

Apa yang terlintas dari benak anda saat mendengar kata ini? Hutan? Pegunungan? Binatang liar? Ya, mungkin ada benarnya jika anda berpikir demikian. Tapi yakinlah bahwa makna petualangan tidak sesimpit itu saja.

Petualangan adalah sebuah perjalanan yang didalamnya banyak sekali memberikan rasa manis.asem.asin.pahit. pokoknya semua rasa yg ada di lidahmu tuh ada semua deh di petualanganmu.

Maka, berterima kasihlah kepada setiap petualangan yang telah kau akhiri. Sepanjang hidupmu kelak, engkau akan dipertemukan dengan berbagai potongan-potongan petualangan. Siapa sih yg ngebuat itu? Yap Jelas! Sang Maha Creator Terbaik Sejagad alam semesta ini.

Lantas kenapa kita harus berterima kasih kepada petualangan? Apa hebatnya dia? Coba lihat kembali pengertian diatas. Bagaimana bias saya berterima kasih kepada rasa asem.asin.dan pahit? Kalau yg baik-baik boleh lah untuk dikasih ucapan terima kasih. Tapi kalau rasa yang lain kayaknya saya belum kuat deh.

Berat memang diawal untuk mengucapkannya, tapi kalau berpikir jernih, insya allah rasa-rasa yang tadi akan terasa bermanfaat kok buat kita. Rasa-rasa yg tadi bisa dijadikan cerminan baru untuk petualangan kita selanjutnya. Bisa jadi cermin itu akan kau pakai saat nanti di petualangan yg baru. Memang sekarang cermin itu tak akan merasa berguna, tapi yakinlah kelak itu akan kau pakai. Jadi simpanlah cermin itu ya.

Potongan Petualangan. Tiap potongan petualangan tidak akan selalu-nya sama atau langsung berkaitan antara petualangan pertama dan petualangan kedua. Namun saya meyakini (walaupun belum ada dasarnya) mungkin kelak nanti pas kita udah masuk ke liang lahat. Sendiri. Saya meyakini saat disana kelak kita akan merangkai-merangkai semua potongan petualangan yang telah Allah kasih ke kita.

Makanya dewasa ini, mungkin masih ada segilintir orang yang berujar “saya hidup untuk apa sih? Kok allah ngasih kejadian tuh kayak gini yah? Kok gak sesuai permintaannya saya yah?”. Nah! Kelak kau akan mendapatkan semua jawaban ini nanti setelah segala petualanganmu berakhir sudah. Kau akan merangkai sendiri di dalam liang lahat.

Jadi mulai sekarang teruslah mengucapkan syukur kepada setiap potongan-potongan petualanganmu. Pelajari dan nikmati dia seperti engkau menikmati rembulan di malam hari. Maka kau akan dapat apa itu hakekat syukur sejatinya.

Akhir kata,

Wassalamualaikum,wr.,wb

Selamat pagi, bandung!

Selamat pagi, aktivitasmu!

Semoga ayah bunda kalian selalu diberikan kesehatan. Amin

–milang–

sang penikmat alam

Penikmat alam. Apa yg terlintas saat anda mendengar nama ini? Mungkin, anda langsung terintas kepada orang-orang yang suka mendaki gunung, orang yang suka menyelami lautan luas. Pokoknya orang-orang yang demen ikut organisasi pecinta alam. Iya kan?

Oke! Mungkin itu penikmat alam yang sudah biasa dan sangat familiar di masyarakat.

Bagaimana dengan Sang Penikmat Alam yg anti-mainstream? J

Pastinya beda. Sang Penikmat Alam yang satu ini tak perlu mengeluarkan biaya yang besar atau perencanaan yang panjang. Dia sangat jarang atau bahkan sudah mulai menipis jumlahnya di muka bumi ini. Jadi pastinya dia suka “aneh” di hati masyarakat umum. Bahkan jarang tersentuh oleh hiruk-pikuknya keriuhan alam sekarang. Hening kesukaannya.

Kata kunci yang dia pendamkan dalam hati adalah menikmati. Dia terkadang cukup hanya duduk di taman pada sore hari dengan bukunya saja merasa sudah cukup untuk menikmati alam indah ini. Atau. Dia terkadang suka naik ke genteng dengan teh angetnya pada malem hari. Apa yang ingin dinikmatinya? Hanya ingin melihat indahnya rembulan pada malam itu. “cukup katanya”, kata dia.

Dia sangat mempercayai bahwa setiap kejadian yang ada di alam ini tak ada yang kebetulan. Dia mempercayai jika ada orang lain yang mengatakan bahwa kejadian di alam ini ada yang kebetulan maka orang ini dicap-nya oleh dia sebagai orang yang tak menghargai adanya Sang Maha Creator Alam. Pedas memang. Tapi dengan kepercayaan inilah yang membuatnya selalu bersyukur setiap perilaku alam yang terjadi di alam ini. Masih pedas cap-nya? Enggak kan? J

Saya rasa sebagai penikmat alam, anda cukup duduk aja di tepi sawah saat pagi hari dengan ditemani dengan buku sambil menikmati udara segar saja sudah cukup bagi anda menjadi penikmat alam sejati. Nikmat yah. Sederhana kelakuannya.

Dia sangat suka mereka-reka atau mendikte setiap kata-kata yang alam lontarkan. Dia percaya bahwa jawaban alam adalah jawaban allah. Terkadang kita yang belum menikmati alam ini agak sukar untuk membaca perilaku-nya (baca : alam). Kau harus mencintai dan menikmati dulu, lalu kau akan bisa membaca setiap perilaku alam.

Jika engkau sudah mendapatkan kenikmatannya, maka kau akan selalu menghargai tiap senti langkahmu di alam ini. Ingat! Alam juga akan selalu merekam tiap langkah senti langkahmu yah. Jadi hargai alam dan tiap senti langkahmu.

Lalu allah pun tidak selamanya memberi peringatan keras kepada penikmat alamnya hanya lewat peristiwa kerusakan alam saja, seperti tsunami, gempa bumi, atau apapun lah yg menimbulkan kerusakan.

Allah tuh Sang Maha Super Keren! Maka lewat keindahan alamnya pun, allah juga demen ngasih peringatan kepada penikmatnya, seperti supermoon, keindahan sawah, dll.

Keren kan allah?

Akhir kata,

“Label Sang penikmat alam kali ini bukan Cuma punya organisasi pecinta alam doang yah. Anda orang yg biasa-biasa aja bisa kok jd Sang Penikmat Alam. Cintai dan pelajari segala perilakunya. Maka kau akan selalu menghargai setiap detak jantung alam ini. Bentuk syukur-lah yg kelak akan menjadi tiang hidupmu”

ibam

 

 

 

 

 

 

Selamat pagi, para penikmat alam baru!

Selamat pagi, bandung!

Selamat pagi, aktivitasmu!

-milang-

klaim allah!!

***

Ketika saya berada di kelompok salah satu jamaah A, banyak pernyataan-pernyataan dari kelompok tersebut meng-klaim bahwa kelompok tersebut  memiliki visi yang akan ditakuti oleh Amerika.

Saya pun dikarenakan  sudah masuk ke dalam jamaah tersebut lantas setia ada berita apapun di timeline facebookmu,twittermu, atau media apapun itu yg padahal belum jelas sumbernya dengan mudahnya tuh saya me-like, me-retweet, atau menyetujui klaim tersebut. Tanpa berpikir kedua kali.

Lalu ketika saya mencoba masuk ke dalam jamaah yang lain, sebut jamaah B. Ternyata tidak jauh berbeda dengan jamaah sebelumnya, jamaah A, di jamaah ini pun ternyata pernyataan-pernyataannya pun meng-klaim bahwa dia ditakuti oleh Amerika.

Dan sama seperti sebelumnya, saat saya berada di jamaah B pun ketika jamaah B ini meng-klaim apapun ttg visi atau keunggulan mereka yg belum tentu juga kebenarannya di media sosial apapun itu, tanpa berpikir dua kali, kita bahkan langsung me-like, me-retweet, atau menyetujui.

***

Kejadian diatas bukan hanya sekadar karangan sang penulis belaka, namun kejadian ini sudah menghiasi kehidupan alam ini sejak lama.

Sebetulnya saya tidak begitu mempedulikan kelakuan mereka yang seperti ini. Tidak. Itu hak mereka. Namun yang menjadi hati ini sedikit gusar adalah saat mereka tak berpikir dua kali untuk “menyetujui” segala klaim yang dilakukan kelompok yang sedang di-tunggangi-nya dan disaat yang sama mereka “agak” sedikit berpikir lama untuk “menyetujui” terhadap “klaim-klaim” milik Allah, Sang Maha Segalanya, disebutkan di manapun medianya. Kadang parahnya mereka takut jika klaim ini tidak sesuai hatinya atau tidak sesuai dengan visi kelompoknya. Padahal jelas-jelas klaim yang ini itu bukan berasal pemikiran dangkal seorang penikmat alam, manusia, namun dari Sang Maha Pemilik Segalanya, Allah swt.

Parah kan?

Oke lah! Jikalau memang sumber klaim tersebut memang benar adanya. Untuk memberikan ketakutan kepada musuh-musuhnya tak masalah lah. Nah, yang jadi masalah itu segala klaim ini untuk menjatuhkan kelompok jamaah yang lain, yang padahal kita tahu bahwa mereka itu sama-sama ISLAM! Itu loh yg bikin merinding bulu kuduk saya. Geram. Gemes.

Begitulah, ISLAM ini mengajarkan agar jangan sampai mencintai suatu kelompok itu dengan berlebihan (ashobiyyah). Sudah jauh-jauh hari padahal ISLAM mengajarkan ini untuk para penikmat alam, manusia. Cintailah mereka karena Allah. Jangan sampai dunia ini sampai masuk ke hatimu. Bahaya.

Akhir kata,

“ ketika kau percaya sepenuhnya terhadap klaim-klaim milik Allah swt, maka seharusnya dengan cara menerapkannya-lah caramu menyetujuinya. Tak perlu kau ragu akan segala klaim-Nya. Mungkin memang terkadang diluar akal sehat manusia, tapi insya allah bakal indah kok diakhirnya. Yang penting kita kan akhirnya kan?”

Oke!

Selamat menikmati sajian berbukanya yah sob.

-milang-

Si Penikmat Alam